Al-Ahzar Cairo
MASJID AL AZHAR
Masjid Al-Azhar dalam bahasa Arab adalah jami’ al-‘ Azhar (جامع الأزهر ) yang berarti masjid yang gemilang. Masjid Al Azhar dibangun oleh Panglima Jauhar Assiqilli di Kairo antara tahun 359-361 Hijriyah (970-972 Masehi) atas perintah Khalifah Muiz Lidinillah, dari Dinasti Fatimiah.
Dinasti Fatimiah adalah dinasti Syiah yang dipimpin oleh 14 khilafah di Afrika Utara (909 M-1171 M). Kata “Fatimiah” dinisbatkan kepada Fatimah karena pengikutnya mengambil silsilah keturuanan dari Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah.
Pada awalnya masjid Al-Azhar dinamakan masjid Jami’ al-Qahira (Masjid Kairo). Pembangunan masjid ini berlangsung selama 2 tahun dan pertama kali digunakan untuk salat pada saat 7 Ramadhan 361 H / 22 Juni 972 M.
Seiring berjalannya waktu, komplek masjid Jami’ al-Qahira diubah namanya menjadi al-Azhar, sebagai isyarat kepada Zahra, julukan Fatimah az-Zahra, salah satu dari 4 putri Rasulullah S.A.W.
Pada saat dinasti Fatimiah dipimpin oleh Abu al-Manshur (975-996 M) menyetujui proposal yang diajukan oleh Ibnu Killis, menteri kepercayaannya, untuk membangun sebuah sistem pendidikan pada masjid Al-Azhar. Ibnu Killis pun menugaskan beberapa guru tetap untuk menjalankan edukasi dan mereka dilatih oleh Ibnu Killis mengenai kurikulum Pendidikan Al-Azhar. Para guru tersebut kemudian mengikuti kurikulum yang telah diterapkan dan menerima pembayaran rutin dari pemerintah Fatimiah. Pada saat itu, Sejarah Berdirinya Al-Azhar memiliki empat sistem pengajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Kelas Umum: diperuntukan bagi kaum Muslim yang datang ke Al-Azhar untuk memperlajari Alquran dan metode penafsirannya.
2. Kelas Keislaman: diperuntukan bagi kaum Muslim yang ingin melakukan kajian permasalahan keislaman bersama dengan para pembimbing pada masa itu.
3. Kelas darul hikam: diberikan oleh para mubaligh dan diperuntukan bagi masyarakat umum dan kalangan pelajar pada saat itu.
4. Kelas Non-formal: disediakan untuk kalangan muslim yang ingin menuntut ilmu-ilmu keislaman.
Masjid Al-Azhar ini adalah cikal bakal berdirinya Universitas Al-Azhar Kairo, universitas kedua di dunia setelah Univesitas Al-Karaoune di Maroko, yang juga didirikan oleh ummat muslim.
Dinasti Fatimiah tumbang oleh Shalahuddin Al-Ayubi (mengambalikan Palestina ke ummat muslim kembali) pada tahun 576 H/ 1171 M, dan pengajaran Al-Azhar berhenti. Pada 665 H saat Dinasi Mamalik/Mamluk pengajaran di Masjid dan Universitas Al-Azhar berfungsi kembali, dan menjadi Sunni sampai saat ini.
Al-Azhar telah melahirkan tokoh pembaharu atau kebangkitan Islam seperti Muhammad Abduh. Perannya sangat penting dalam sejarah Islam.
Pelajar pertama Indonesia yang belajar di Masjid al-Azhar,Universitas al-Azhar, adalah Abdul Manan Dipomenggolo, sekitar tahun 1850. Dia merupakan pendiri pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, dan juga kakek dari Syekh Mahfudz Tremas.
Sedangkan orang Indonesia pertama yang meraih derajat tertinggi (alamiyya) dari Universitas al-Azhar adalah Janan Thaib. Dia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, tahun 1891. Dia pergi untuk belajar ke Makkah pada 1911. Delapan tahun kemudian, pada 1918, dia menempati peringkat ketujuh di Universitas al-Azhar. Dia lulus dengan gelar alamiyya pada 1924.
"Aku ingin cintaku kepada Aisha seperti bunga-bunga makrifat di hati para orang-orang salih-salihin dan para nabi." [Fahri, Ayat-ayat Cinta]
Masjid Al-Azhar dalam bahasa Arab adalah jami’ al-‘ Azhar (جامع الأزهر ) yang berarti masjid yang gemilang. Masjid Al Azhar dibangun oleh Panglima Jauhar Assiqilli di Kairo antara tahun 359-361 Hijriyah (970-972 Masehi) atas perintah Khalifah Muiz Lidinillah, dari Dinasti Fatimiah.
Dinasti Fatimiah adalah dinasti Syiah yang dipimpin oleh 14 khilafah di Afrika Utara (909 M-1171 M). Kata “Fatimiah” dinisbatkan kepada Fatimah karena pengikutnya mengambil silsilah keturuanan dari Fatimah Az-Zahra binti Rasulullah.
Pada awalnya masjid Al-Azhar dinamakan masjid Jami’ al-Qahira (Masjid Kairo). Pembangunan masjid ini berlangsung selama 2 tahun dan pertama kali digunakan untuk salat pada saat 7 Ramadhan 361 H / 22 Juni 972 M.
Seiring berjalannya waktu, komplek masjid Jami’ al-Qahira diubah namanya menjadi al-Azhar, sebagai isyarat kepada Zahra, julukan Fatimah az-Zahra, salah satu dari 4 putri Rasulullah S.A.W.
Pada saat dinasti Fatimiah dipimpin oleh Abu al-Manshur (975-996 M) menyetujui proposal yang diajukan oleh Ibnu Killis, menteri kepercayaannya, untuk membangun sebuah sistem pendidikan pada masjid Al-Azhar. Ibnu Killis pun menugaskan beberapa guru tetap untuk menjalankan edukasi dan mereka dilatih oleh Ibnu Killis mengenai kurikulum Pendidikan Al-Azhar. Para guru tersebut kemudian mengikuti kurikulum yang telah diterapkan dan menerima pembayaran rutin dari pemerintah Fatimiah. Pada saat itu, Sejarah Berdirinya Al-Azhar memiliki empat sistem pengajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Kelas Umum: diperuntukan bagi kaum Muslim yang datang ke Al-Azhar untuk memperlajari Alquran dan metode penafsirannya.
2. Kelas Keislaman: diperuntukan bagi kaum Muslim yang ingin melakukan kajian permasalahan keislaman bersama dengan para pembimbing pada masa itu.
3. Kelas darul hikam: diberikan oleh para mubaligh dan diperuntukan bagi masyarakat umum dan kalangan pelajar pada saat itu.
4. Kelas Non-formal: disediakan untuk kalangan muslim yang ingin menuntut ilmu-ilmu keislaman.
Masjid Al-Azhar ini adalah cikal bakal berdirinya Universitas Al-Azhar Kairo, universitas kedua di dunia setelah Univesitas Al-Karaoune di Maroko, yang juga didirikan oleh ummat muslim.
Dinasti Fatimiah tumbang oleh Shalahuddin Al-Ayubi (mengambalikan Palestina ke ummat muslim kembali) pada tahun 576 H/ 1171 M, dan pengajaran Al-Azhar berhenti. Pada 665 H saat Dinasi Mamalik/Mamluk pengajaran di Masjid dan Universitas Al-Azhar berfungsi kembali, dan menjadi Sunni sampai saat ini.
Al-Azhar telah melahirkan tokoh pembaharu atau kebangkitan Islam seperti Muhammad Abduh. Perannya sangat penting dalam sejarah Islam.
Pelajar pertama Indonesia yang belajar di Masjid al-Azhar,Universitas al-Azhar, adalah Abdul Manan Dipomenggolo, sekitar tahun 1850. Dia merupakan pendiri pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, dan juga kakek dari Syekh Mahfudz Tremas.
Sedangkan orang Indonesia pertama yang meraih derajat tertinggi (alamiyya) dari Universitas al-Azhar adalah Janan Thaib. Dia lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, tahun 1891. Dia pergi untuk belajar ke Makkah pada 1911. Delapan tahun kemudian, pada 1918, dia menempati peringkat ketujuh di Universitas al-Azhar. Dia lulus dengan gelar alamiyya pada 1924.
"Aku ingin cintaku kepada Aisha seperti bunga-bunga makrifat di hati para orang-orang salih-salihin dan para nabi." [Fahri, Ayat-ayat Cinta]
Komentar
Posting Komentar